
Blangkejeren, 24 Februari 2026 — Ketua Mahkamah Syar’iyah Blangkejeren, Taufik Rahayu Sayam, S.H.I., M.S.I., menyampaikan tausyiah menjelang pelaksanaan salat tarawih di Masjid Al Marhamah pada Selasa malam (24/02/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang rutin dilakukan sebagai wujud peran aktif aparatur peradilan dalam pembinaan keagamaan di tengah umat.
Dalam ceramahnya, Taufik mengangkat kisah inspiratif tentang Elizabeth Gilbert, seorang penulis asal Amerika Serikat yang mengalami perubahan pandangan terhadap Islam setelah melakukan perjalanan ke Lombok di tengah masa-masa sulit kehidupannya. Dikisahkan bahwa Elizabeth saat itu tengah menghadapi depresi akibat perceraian yang dialaminya. Dalam pencarian ketenangan batin, ia mengunjungi Pulau Lombok. Di sana, ia kerap berkeliling dan berinteraksi dengan masyarakat setempat hingga suatu ketika ia jatuh sakit. Dalam kondisi tersebut, seorang ibu tua di Lombok dengan tulus merawat dan memperhatikannya tanpa pamrih. Menurut penuturan Elizabeth, kasih sayang yang diberikan oleh ibu tersebut begitu tulus dan tanpa syarat. Padahal, keduanya tidak saling mengenal, bahkan Elizabeth tidak mengetahui nama ibu tersebut.
Sikap penuh cinta dan kepedulian itu meninggalkan kesan mendalam dalam dirinya. Sejak saat itulah, pandangannya tentang Islam yang sebelumnya dipersepsikan sebagai agama yang keras dan identik dengan kekerasan, berubah menjadi agama yang ramah, penuh cinta kasih, sebagaimana tercermin dalam akhlak sang ibu tua tersebut.
Lebih lanjut, Taufik menegaskan bahwa akhlak seorang muslim merupakan bentuk dakwah yang paling nyata. “Orang-orang nonmuslim mungkin tidak membaca Al-Qur’an atau hadis, tetapi mereka melihat bagaimana kaum muslimin bersikap dan berperilaku. Jika perilaku kita baik, maka citra Islam akan baik. Sebaliknya, jika akhlak kita buruk, maka citra Islam pun akan tercoreng,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ia menutup tausyiahnya dengan menegaskan bahwa inti ajaran Islam adalah akhlakul karimah. Ibadah yang dijalankan, menurutnya, harus bermuara pada pembentukan karakter yang santun, penuh kasih, dan membawa kebaikan bagi sesama.
Kegiatan tausyiah tersebut berlangsung khidmat dan disambut antusias oleh jamaah yang hadir, sebelum kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Isya dan tarawih berjamaah. (Tim Media)